Advertisement
"Satu Tungku Tiga Batu" Wujud Toleransi Umat Beragama Di Papua - Indonesia merupakan negara dengan tingkat keragaman yang cukup tinggi, baik dari segi etnis, budaya, hingga pada keragaman kepercayaan untuk memeluk agama. Telah kita ketahui bersama, akibat dari keragaman (perbedaan) tersebut maka dapat berimbas pada munculnya potensi konflik diantara masyarakat, hal ini dicontohkan dengan insiden yang baru-baru ini terjadi di bumi paling timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Tolikara, Papua, dimana insiden tersebut tak jarang dikaitkan dengan isu SARA.
"Satu Tungku Tiga Batu" Wujud Toleransi Umat Beragama Di Papua
"Satu Tungku Tiga Batu" Wujud Toleransi Umat Beragama Di Papua
Melihat kejadian tersebut, maka muncul beberapa komentar-komentar yang bernada miring diantara masyarakat yang saling menyalahkan. Tak jarang terlihat di beberapa media sosial, banyak diantara pemberi komentar tersebut, yang justru mengeluarkan pernyataan-pernyataan mengarah kepada provokasi yang dapat melukai perasaan orang lain. Padahal si pemberi komentar tersebut bisa jadi tak mengerti duduk perkara, serta akar masalah dari insiden tersebut.

Berkaitan dengan masalah keragaman kepercayaan di Indonesia, khususnya di Papua, redaksi SpesialTips! akan mencoba berbagi informasi tentang salah satu kelebihan masyarakat di Papua yang sebenarnya menjunjung tinggi sikap toleransi antar umat beragama, yang mungkin dapat membuka pengetahuan kita untuk dapat mempelajari dan menggugah kesadaran kita semua, bahwa perbedaan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa.

Adalah sebuah falsafah yang dikenal dengan sebutan "Satu Tungku Tiga Batu". Salah satu wujud toleransi yang dijadikan pegangan oleh masyarakat Papua dalam hidup untuk saling menghargai antar pemeluk beragama. Falsafah yang lahir di Kabupaten Fakfak (Papua Barat) ini, menggambarkan sebuah tungku sebagai perlambang kehidupan masyrakat Fakfak, yang di bawahnya ditopang dengan tiga batu, yaitu analogi dari tiga agama yang terdapat di Kabupaten Fakfak, yaitu; Islam, Kristen Protestan, Dan Kristen Katolik. Dimana nilai yang bisa ditarik dari falsasah Satu Tungku Tiba Batu, yaitu sebuah kehidupan yang dapat berjalan harmonis, dengan kekuatan persatuan dan rasa saling toleransi diantara umat beragama yang diwakili dengan ketiga agama dengan pemeluk terbesar di Kabupaten Fakfak.

Berdasarkan falsafah yang telah dijaga sejak tiga abad lalu ini, kehidupan antar umat beragama di Kabupaten Fakfak berjalan dengan sangat harmonis dan selalu dilandasi dengan rasa kekeluargaan, hingga tak pernah sekalipun terjadi masalah yang dapat menyebabkan perpecahan di daerah tersebut.

Berkaca dari falsafah Satu Tungku Tiga Batu yang dipegang teguh masyarakat di Papua tersebut, maka seharusnya bagi kita warga negara Indonesia yang pastinya mencintai kedamaian, menjadikan falsafah tersebut sebagai pelajaran untuk membangun rasa kekeluargaan, dan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, demi mewujudkan Indonesia yang selalu dinaungi kedamaian dan ketentraman.

Demikian sedikit informasi yang dapat SpesialTips! bagikan kali ini, semoga dapat menambah pengetahuan sahabat sekalian, dan dapat pula menjadi pengingat diantara kita, bahwa hidup akan lebih indah dengan kedamaian. 
Advertisement

Post a Comment Blogger Disqus

  1. makasih buat infonya bang..... saya juga turut prihatin ama kjadian itu apalagi itu terjadi mejimpa agama saya dan saudara saya disana selain itu kejadian ini juga terjadi dibulan yang suci.... saya harap hal ini tidak terjadi lagi... jangan lupa komen back di ronalsf.blogspot.com

    ReplyDelete

Jadi Sahabat Spesial Dengan Memberikan komentar Bermanfaat :) Berbagi Itu Indah :)

Kamu Bisa Memilih Salah Satu Jenis Komentar Blogger Atau Disqus :)

Harap tidak menggunakan link aktif ...

 
Top